SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMK NEGERI SUKOHARJO - PRINGSEWU - LAMPUNG

Sutoto, S.Sn. Aset SMK N Sukoharjo

esemka.ol -- Tentu sebagai orang Indonesia kita mengenal seni tradisional Wayang Kulit. Satu seni tradisional asal daratan Pulau Jawa yang pada tahun 2010 telah diakui oleh PBB sebagai seni tradisional asli dari Indonesia. Penyebaran penduduk pada tahun 1925 dengan cara transmigrasi ikut berperan serta dalam penyebaran seni yang satu ini.

Begitu juga yang terjadi dengan Sutoto, keluarga besarnya telah ikut berpindah ke daerah Wiyono yang saat ini secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kab. Pesawaran Provinsi Lampung. Keluarga besarnya sebagian besar adalah seniman tradisional wayang kulit. Darah seniman mengalir dalam dirinya. Dari ayahnya, Ki Gondho Sumarto (Alm) yang merupakan salah satu dalang kondang di bilangan Kab. Pesawaran dan sekitarnya. Juga sang ibu, Nyi Parinten juga seorang dalang wayang kulit perempuan yang sempat pentas hingga ke Ibu Kota DKI Jakarta.

Darah seni mengalir ke dalam diri Sutoto, sehingga dengan melihat potensi dirinya dia rela meninggalkan lampung menuju tanah leluhurnya di Yogyakarta untuk menempuh Pendidikan Pedalangan di SMKI Yogyakarta. Begitu juga dengan pendidikannya di SMK YPT – Pringsewu, Jurusan Teknik Listrik dia tinggalkan demi memenuhi hasratnya untuk meneruskan darah seni sang ayah. Begitu juga dengan 3 saudara kandungnya, semuanya mengabdikan diri mereka dalam dunia seni.

Sosok Sutoto, merupakan aset bagi Lampung pada umumnya dan SMK N Sukoharjo (Pringsewu) pada khususnya. Pria dengan multitalent seni ini tidak pernah menampakkan raut muka sedih. Bahkan ‘dagelan-dagelan’ dan ‘guyon mathon’-nya sering menjadi pelipur lara. Dalam bahasa jawa biasa disebut dengan ‘mbador’. Tidak hanya seni panggung pentas wayang kulit, petikan jari-jemarinya --meskipun tidak lentik selentik Didik Nini Thowox-- sanggup menghibur dengan lentingan dawai gitar di ruangan guru. Juga seni ukirnya yang tidak kalah dengan besutan para pengukir dari Jepara, indah.

Sutoto, atau lengkapnya Ki Sutoto Gondho Sumarto, S.Sn., merupakan aset yang harus dilestarikan. Jarang ada guru muda yang memiliki kemampuan seperti dia. Provinsi Lampung dan Kab. Pringsewu harus menyadarinya. Alasannya, selain dia mengajar Seni Budaya dia juga seorang praktisi seni, khususnya Pagelaran Wayang Kulit (Ringgit Purwo). Kemampuannya mewarisi sang guru Ki Timbul Cermo Manggolo dikolaborasi dengan darah sang ayah yang mengalir dalam tubuhnya. Gaya khas Yogyakartanya sangat kental, sehingga bagi penggemar akan sangat terkesan dengan gaya permainannya. Sesekali logat banyumasannya keluar saat Nolo Gareng tampil, bener apa ora...?₪